"Artikel Terbaru"

Pengumuman

"Posting untuk saat ini tidak akan teratur-ADMIN
Diberdayakan oleh Blogger.

Quotes

"Jangan iri atas keberhasilan orang lain, karena kamu tidak mengetahui apa yang telah ia korbankan untuk mencapai keberhasilannya itu"-ADMIN
Home » » Saatnya Berdiri | Cerpen Motivasi

Saatnya Berdiri | Cerpen Motivasi

Written By Fajar Fachi on Sabtu, 23 Januari 2016 | 19.53.00

Hidup seperti kertas putih, apa saja yang mau kita tulis itu terserah kita karna itu kertas kita. Namun kita harus selalu mengisi kertas itu dengan tulisan yang bermanfa’at, ketika mengawali kehidupan kita seperti kertas putih bersih, suci dan dijaga dengan rapi. Bukan suatu yang buruk untuk mengawali tulisan dengan moto.

Pagi itu aku terkejut dengan jeritan dari kamar 013, “Siapa itu masih juga pagi buta sudah teriak-teriak enggak jelas”, suara hati ini ngedumel karna mendengar teriakan itu. Tanpa fikir panjang lagi aku menghampiri kamar 013 itu yang ditempati bocah SMP, betapa kagetnya aku kamar itu telah acak-acakan seperti kapal yang baru karam. Ternyata kamar itu baru dimasuki maling barang berharga yang dimiliki bocah itu telah raib hilang termasuk uang yang baru dikirim oleh orang tuanya yang disimpan dilemari. Sulit untuk memahami bagaimana anak ini akhirnya akan melanjutkan hidup dikota ini, ia tidak bisa meminta uang keorang tuanya karna orang tuanya dikampung saja sulit untuk makan. “Dek yang sabar ya kalau ada apa-apa tempat kakak aja”, aku mencoba mengibur bocah itu yang untungnya uang kos untuk 3 bulan kedepan sudah lunas. Namun aku salut dengan bocah itu ia pintar dan rajin “Ia kak, makasih ya kak” setelah itu aku langsung balik kekamar untuk mengambil peralatan mandi. Setelah mandi aku membawakan sarapan kebocah itu tidak banyak hanya nasi dengan sedikit lauk pauk karna harus berbagi dengan ku yang juga lagi kekurangan. Lalu aku berangkat kuliah untuk terus mengejar cita-cita ku.


Tidak terbayang apa yang akan dilakukan bocah itu untuk satu bulan kedepan, ia harus menghidupi dirinya sendiri untuk setidaknya paling lama satu bulan. Ketika pulang dari kuliah aku melihat bocah itu sibuk bertansaksi dikonter hp “Mungkin ia mau menjual hp yang ia punya untuk makan setidaknya untuk beberapa hari”, guma ku dalam hati. Ketika melewati kamar 013 aku masih prihatin sama keadaan bocah itu, namun apa dayaku hanya bisa mengeluh atas keadaan bocah itu. Keesokan pagi setelah siap aku berangkat sepeti hari biasa untuk meraih cita-cita ku ketika aku memacu sepeda motor ku aku bertemu bocah itu ia kini membawa gitar “Kamu enggak sekolah, kenapa membawa gitar ?”. Aneh sekali apa disekolahan bocah itu sedang ada praktik musik “Ini kak mau ngamen sebentar sebelum berangkat sekolah”, betapa terkejutnya aku ternyata bocah itu menjual hp yang ia miliki untuk membeli gitar guna menyambung hidup dengan menjadi pengamen jalanan. Seketika bocah itu menghilang sebenarnya jarak sekolahan ia tidak terlalu jauh hanya sejauh 500 meter kalau lewat jalan tikus. Namun kali ini ia melewati jalan besar untuk memulai kerjaan kecilnya itu, tanpa ia sadari aku mengikuti ia dari belakang ia berhenti disalah satu rumah makan dan tak lama kemudian ia keluar dengan wajah sumringah. Ia kemudian masuk kebus untuk mengamen selama perjalanan kesekolah, selain berangkat gratis ia juga mungkin akan mendapatkan uang dari hasil ngamennya itu. Malamnya aku main kekamar 013 untuk sedikit berbincang dengan bocah itu, aku ajak ia kesalah satu kafe dikota itu, kebeneran kafe itu milik salah satu temen yang telah lama ditinggalkan band yang biasa mengisi untuk sekedar menghibur pengunjung. Aku tawarin bocah itu untuk menyanyi dikafe itu ia sebagai vokalis dan aku sebagai gitaris dan setelah pukul 09:30 kami pulang. Didalam perjalanan aku beri ia uang Rp50.000,00 sebagai upahnya, setelah sampai dikamar aku langsung mengecek hp ku ternyata sudah ada sms dari pemilik kafe yang tak lain adalah temanku sendiri. Ia salut dengan suara bocah itu kemudian menawarkan untuk menjadikannya penyanyi tetap dikafe, aku tentu setuju dengan beberapa syarat.

Syarat yang aku beri adalah jam kerja hanya berlaku dari 07:00-09:30 dan uang dikasih perhari untuk 1 bulan pertama setelahnya dikasih setiap tanggal 06 awal bulan. Ia setuju dengan syarat yang aku berikan, sangat jelas ia setuju karna tidak ingin kehilangan penyanyi berkualitas. Keesokan harinya aku memberi tahu bocah itu untuk tidak mengamen lagi tapi ia menolak dengan alasan uang setelah aku jelasin ia pun mengucapkan terimakasih ke aku. Ia kini tidak perlu repot lagi dengan fikiran yang seharunya tidak ia fikirkan, dan lebih dari itu ia kini bisa menabung dan tidak perlu meminta ke orang tua lagi namun orang tua bocah itu tetap mengirim uang ke dia. Ternyata ia tidak mau member tahu orang tuanya karna alasan tidak mau membebani orang tuanya karna ia dikota untuk belajar.

Demikian tadi Cerpen Saatnya Berdiri semoga bisa menjadi motivasi yang sesungguhnya. Mohon maaf bila terjadi kesamaan alur cerita karna cerpen ini murni hasil karangan saya sebagai penulis. Untuk teman-teman ditunggu kritik dan sarannya dan juga ide-ide yang bisa merubah dunia ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Perjalanan Blog

Sering Di Intip